AL-BASIR
(ALLAH MAHA MELIHAT)
DOSEN : Drs. AHMAD SYUKRI,Mpd
DI SUSUN OLEH:
NAMA :ZUHROTUL AZIZAH
NPM : 1311090059
FAKULTAS : TARBIYAH
JURUSAN : PENDIDIKAN FISIKA
KELAS : A
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI RADEN INTAN
BANDAR LAMPUNG
2013
KATA PENGATAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah Nya.Sehingga kita semua masih diberikan kekuatan iman dan kesempatan untuk selalu beribadah dan menuntut ilmu di jalan Nya. Sholawat an dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhamad SAW dan para Sahabat Nya yang senantiasa kita nantikan dan rindukan syafaat Nya di akhir kelak.
Dalam kesempatan ini penulis sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan makalah tauhid tentang “Al Bashir” dan penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian tugas makalah Al Bashir .Semoga dengan adanya makalah ini dapat meringankan para mahasiswa dari kesulitan mempelajari Sifat Allah (Al-bashir) dan juga menjadi modal dasar untuk study Tauhid selanjutnya.
Serta tegur sapa dari para dosen dan mahasiswa tetap kami nantikan guna lebih mensukseskan bidang ini. Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa menjadi bahan referensi kita dalam belajar.Akhirnya kepada Allah jualah kita berlindung dan mengharapkan magfira taufiq, dan hidayahNya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Bandar Lampung, 27 November 2013
Penulis
DAFTAR ISI
COVER KATA PENGATAR.................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................................1.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Albasir..........................................................................................................2
2.2 Ayat Al-quran tentang Al-Bashir.....................................................................................2
2.3 Manfaat Imaan Kepada Sifat-Sifat Allah....................................................6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................................7
3.2 Saran...........................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA
BAB IPENDAHULUAN
Asmaul husna adalah nama-nama Allah yang indah dan baik.Asma berarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah.jadi asmaul husna adalah nama-nama milik Allah yang baik lagi indah.Nama-nama Allah disebutkan terdiri dari 99,ada yang menyebutkan 100,200,1000 bahkan 4000 nama Allah,namun yang terpenting adalah hakikat Dzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimegerti oleh orang-orang yang beriman seperti nabi Muhamad SAW adalah 99.Asmaul Husna secara harfiah adalah nama-nama,sebutan,gelar Allah yang baik dan Agung sesuai sifat-sifatnya1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu sifat Allah adalah Al-Bashir yang berarti Maha Melihat. Berkaitan dengan hal itu,segala yang tertera dalam Al-quran tentang Asmaul Husna,dan dengan salah satu cara kita mempelajari ayat-ayat asmau’l husna ini,kita akan mampu mengenal sifat-sifat Allah seperti salah satunya Al-Bashiir karna itu membuktikan kebesaran-Nya. Utuk itu penulis dalam makalah ini penulis akan sedikit membahas ayat-ayat Asmaul Husna yang ada dalam Al-quran tentang Albahiir,dengan harapan agar apa yang penulis sajikan ini menambah hazanah keilmuan dan bermanfaat untuk penulis pada khusus nya dan pembaca pada umum nya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Al-bashir?
2. Apa saja ayat-ayat tentang Al-bashir?
3. Apa manfaat percaya kepada sifat –sifat Allah?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Albasir
Al-Bashir berasal dari kata ba-sha-ra, yang arti harfiahnya adalah “melihat”. Dalam pengertian yang lebih luas, bashara bisa berarti ilmu atau kejelasan. Nabi Yusuf, sebagaimana dikutip dalam al-Qur’an, senantiasa melakukan dakwah kepada para terpidana dan petugas di lingkungan penjara dengan mengatakan: “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan bukti yang sangat jelas dan nyata (bashirah),” (QS. Yusuf: 108) Arti lain, seperti yang sering dipakai oleh kaum sufi, adalah mata hati atau mata batin.
Ada pula yang menyebutnya dengan indera keenam. Apa pun namanya, seseorang yang telah memilikibashirah akan mampu melihat hal-hal yang ghaib. Ketika melihat sesuatu, ia tidak hanya melihat dengan mata kepalanya saja, tetapi menggunakan mata batinnya yang dapat menembus batas ruang dan waktu.
2.2 Ayat Al-quran tentang Al-bashir
Bashira dalam pengertian diatas hanya diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha mendekat atau melakukan taqarrub kepada Allah. Salah satu hamba-Nya yang jelas-jelas telah memiliki bashirah adalah Muhammad saw, sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an: “Telah diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Al-Israa: 1). لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ Artinya: “Tidaklah ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11) Al-Bashir (الْبَصِيرُ) adalah salah satu Al-Asma`ul Husna. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut nama-Nya ini dalam beberapa ayat, di antaranya dalam surat An-Nisa` ayat 58: إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا Artinya :“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Dari ayat diatas dapat dijabarkan bahwa sifat Allah adalah maha melihat maksud nya melihat disini adalah Allah melihat semua hal yang dilakukan oleh semua makluk ciptaan nya baik yang berukuran besar atau kecil,baik yang terlihat secara kasat mata sampai yang tersembunyi,dari perbuatan yang baik hingga perbuatan yang buruk karna sesungguhnya melihatnya Allah adalah sempurna.hal ini dapat diperjelas dalam surat Al-‘Alaq ayat 14: أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللهَ يَرَى “Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”
Qiwamussunnah Al-Ashfahani rahimahullahu mengatakan: “Maka, penglihatan Sang Pencipta tidak seperti penglihatan makhluk, dan pendengaran Sang Pencipta tidak seperti pendengaran makhluk.Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat apa yang di bawah tanah dan apa yang di bawah bumi yang ketujuh, serta apa yang di langit-langit yang tinggi. Tidak ada sesuatupun yang luput atau tersembunyi dari pandangan-Nya. Ia melihat apa yang berada di dalam lautan berikut kegelapannya, sebagaimana ia melihat apa yang di langit. Sementara manusia hanya melihat apa yang dekat dengan pandangannya, adapun yang jauh tidak mampu mereka lihat. Dan manusia tidak mampu melihat sesuatu yang tertutupi antara dia dengan-Nya”Hal ini juga terdapat Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, juga disebutkan: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ -أَوْ قَالَ- أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ”Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila kami menaiki dataran tinggi, maka kami mengucapkan takbir.1 Maka beliau mengatakan: ‘Wahai manusia kasihilah diri kalian, karena kalian tidaklah menyeru Dzat yang tuli atau jauh, akan tetapi Ia Maha Mendengar dan Maha Melihat.’Lalu beliau mendatangiku, sementara aku sedang mengucapkan dalam diriku: ‘La haula wala quwwataillabillah.Lalu beliau mengatakan: ‘Wahai Abdullah bin Qais (nama Abu Musa), ucapkan La haula wala quwwata illa billah. Sesungguhnya itu adalah salah satu kekayaan yang tersimpan di surga.’ Atau beliau mengatakan: ‘Tidakkah kamu mau aku tunjuki salah satu harta kekayaan di surga? La haula wala quwwata illa billah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5905, 7386) Salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Bashar (البَصَر) yakni melihat.Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu mengatakan:“
Al-Bashir maknanya adalah Yang melihat segala sesuatu walaupun lembut dan kecil. Maka, Ia melihat langkah semut kecil yang hitam di malam yang kelam di atas batu yang keras. Ia juga melihat apa yang di bawah tujuh bumi sebagaimana melihat apa yang di atas langit yang tujuh. Ia juga mendengar dan melihat siapa saja yang berhak mendapatkan balasan-Nya sesuai hikmah-Nya.Dan makna yang terakhir ini kembali kepada hikmah-Nya.” (Tafsir As-Sa’di).Dalam ayat dan hadits yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat melihat dengan sebutan ru’yah (يَرَى-رُأْيَةً), sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Thaha ayat 46: قَالَ لاَ تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا “Allah berkata: Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga disebutkan tentang sifat Al Bashir: قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ اْلإِحْسَانِ. قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ “Malaikat Jibril mengatakan kepada Nabi: ‘Apakah ihsan itu?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu’.” (Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim)
Melihatnya Allah adalah sempurna namun Allah tidak melihat seseorang melalui harta benda nya didunia namun Allah melihat seseorang berdasarkan amal perbuatannya.hal ini di perjelas oleh Firman Allah yang berbunyi: وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Dan Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat.” (Ali ‘Imran: 77) Sifat ini juga disebutkan juga dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan harta benda kalian, akan tetapi melihat kepada kalbu dan amal kalian.” (Shahih, HR. Muslim).Dalam ayat dan hadits yang lain juga disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki mata. Dan ini adalah sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkaitan dengan Dzat-Nya. Tentunya mata Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan mata makhluk yang identik dengan kelemahan dan kekurangan.
Nama bisa sama, akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat: وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا “Dan buatlah bahtera itu dengan penglihatan mata Kami dan petunjuk Kami.” (Hud: 37) أَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي “Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan mata-Ku.” (Thaha: 39) وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan dari Rabbmu, maka sesungguhnya kamu dalam penglihatan mata Kami.” (Ath-Thur: 48) Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan: قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: {إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا} فَوَضَعَ إِصْبَعَهُ الدُّعَاءِ عَلىَ عَيْنَيْهِ وَإِبْهَامَهُ عَلىَ أُذُنَيْهِ “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini (artinya): ‘Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Melihat.’ Lalu beliau meletakkan jari telunjuknya pada kedua matanya dan ibu jarinya pada pada dua telinganya.”
Al-Harras rahimahullahu berkata: “Maksud hadits ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar dengan pendengaran dan melihat dengan mata. Sehingga hadits ini merupakan bantahan terhadap Mu’tazilah dan sebagian Asy’ariyyah yang berpendapat bahwa pendengaran-Nya artinya pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat didengar, dan penglihatan-Nya adalah pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat dilihat. Tanpa diragukan lagi, ini adalah tafsir yang salah. Karena pendengaran dan penglihatan itu maknanya lebih dari sekadar pengetahuan, karena pengetahuan terkadang dapat diperoleh tanpanya.” (Syarh Nuniyyah, 2/72-73)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua mata, sesuai dengan keterangan Al-Qur`an.”Beliau juga mengatakan: “Dan kami mengatakan: ‘Rabb kami, Sang Pencipta, memiliki dua mata. Dengan keduanya, Ia melihat apa yang berada di bawah tanah dan bahkan di bawah bumi yang ketujuh dan apa yang berada pada langit-langit yang tinggi.”. Demikian pula hal ini diterangkan oleh Al-Lalaka`i rahimahullahu dalam Ushulul I’tiqad.Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Ahlus Sunnah bersepakat bahwa mata Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua. Yang mendukung ijma’ (kesepakatan) ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal: ‘Sesungguhnya ia buta sebelah, dan Rabb kalian tidak buta sebelah’.” (‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah)
2.3 Manfaat Imaan Kepada Sifat-Sifat Allah (Al Bashir)
Adapun manfaat iman kepada sifat-sifat Allah (Al Bashir/Maha melihat) adalah sebagai berikut :
1. Agar manusia berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia ini, sebab Allah pasti melihat apa yang manusia lakukan
2. Menumbuhkan sikap muraqabah pada diri orang yang mengimaninya. Yakni, dia senantiasa merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Mempertimbangkan segala langkah yang akan ia tempuh dalam gerak-geriknya.
4. Selalu berprasangka baik terhadap Allah
5. Menjadi manusia yang Bertindak seakan-akan Allah ada didekatnya(sangat hati-hati)
6. Menjauhi dari sifat tercela, Ia akan berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk karena dalam dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari bahwa sekalipun tidak ada orang yang melihatnya namun Allah Maha Melihat
7. Merasa bahwa segala tindakannya selalu dilihat oleh Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat.
. BAB IIIPENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas tentang sifat Allah Al Bashir atau Allah Maha Melihat dapat di simpulkan bahwa :
1. Al-Bashir berasal dari kata ba-sha-ra, yang arti harfiahnya adalah “melihat”. Dalam pengertian yang lebih luas, bashara bisa berarti ilmu atau kejelasan.
2. Melihatnya Allah SWT adalah sempurna terhadap apa yang ada di alam ini dan kepada seluruh makhluknya.Penglihatan Allah sangat luas tidak dibatasi oleh suatu apapun.
3. Manfaat iman kepada sifat Al Bashir adalah manusia Merasa bahwa segala tindakannya selalu dilihat oleh Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat.
3.2 Saran
Adapun saran yang penulis berikan adalah sebaiknya umat islam mengimani sifat-sifat Allah( Al-Asma`ul Husna),agar dapat terhindar dari sifat tercela atau sifat yang tidak disukai Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Krisna Anad,Asmaul husna 99 Nama Allah Bagi Orang Modern,1999,Jakarta;Gramedia Pustaka Utama
Syaikh Al-Utsaimin Sholeh bin Muhamad, Ai-Qawa ‘idil Mutsla Memahami Nama Dan Sifat Allah,2003, Jogjakarta;Media Hidayah
Rahayu Suci.Thoifuri,Pendidikan Agama Islam,Sekolah Menengah Atas Kelas X,2007 Jakarta; Ganesa exact.
El-Bantanie Syafii Muhamad,Rahasia keajaiban Asmaul Husna,2009,Jakarta;PT.Wahyu Media