Makalah Tasawuf
DIMENSI
AJARAN ISLAM
(IMAN,ISLAM
DAN IKHSAN)
DOSEN :
Drs. AHMAD SYUKRI,Mpd
disusun oleh
Zuhrotul Azizah
131190059
DI SUSUN
OLEH:
NAMA
:ZUHROTUL AZIZAH
NPM : 1311090059
FAKULTAS : TARBIYAH
JURUSAN : PENDIDIKAN FISIKA
KELAS : A
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGRI RADEN INTAN
BANDAR
LAMPUNG
2013
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat
Allah SWT, atas rahmat dan hidayah Nya.Sehingga kita semua masih diberikan
kekuatan iman dan kesempatan untuk selalu beribadah dan menuntut ilmu di jalan
Nya. Sholawat an dan salam semoga tetap
tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhamad SAW dan para Sahabat Nya yang
senantiasa kita nantikan dan rindukan syafaat Nya di akhir kelak.
Dalam kesempatan ini
kami sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dalam
menyelesaikan makalah Dimensi Ajaran Islam dan kami mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian tugas makalah Dimensi
Ajaran Islam .Semoga dengan adanya makalah ini dapat meringankan para mahasiswa
dari kesulitan mempelajari Dimensi Ajaran Islam dan juga menjadi modal dasar
untuk study Metode Study Islam selanjutnya. Serta tegur sapa dari para dosen
dan mahasiswa tetap kami nantikan guna lebih mensukseskan bidang ini.
Demikian yang bisa kami
sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa menjadi
bahan referensi kita dalam belajar.Akhirnya kepada Allah jualah kita berlindung
dan mengharapkan magfira taufiq, dan hidayahNya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Bandar Lampung, Maret 2014
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalahan
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Iman,Islam, dan Ihsan
2.2 Hubungan
Antara Iman,Islam, dan Ihsan
2.3 Perbedaan
Antara Iman,Islam dan Ihsan
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dimensi-dimensi atau tahapan-tahapan
yang terkandung dalam islam sangatlah berurutan sesuai dengan kemampuan jiwa
yang terkandung dalam diri manusia sebagai makhluk yang telah dikaruniai hati
dan pikiran sebagai alat untuk menjalani kehidupan.
Adapun tahapan-tahapan
bukanlah perbedaan yang memecah belah persatuan sebagai sesama muslim,akan
tetapi berfungsi saling melengkapi.dan
dengan sadar atau tidak,itulah tahapan-tahapan yang akan kita lalui
sebagai manusia yang berakal.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Apa yang dimaksud
dengan iman,islam dan ihsan?
1.2.2
Apa hubungan antara
iman ,islam dan ihsan?
1.2.3
Perbedaan antaraa
iman,islam dan ihsan?
1.3
Tujuan
Penulisan
Makalah ini disusun
agar dapat mengetahui bagaimana pengertian tentang iman,islam dan
ihsan,hubungan antara iman,islam dan ihsan,serta dapat membedakan antara
iman,islam dan ihsan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Iman,Islam dan Ihsan
Dalam sebuah hadits dikatakan :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَا الإِيمَانُ قَالَ
الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ
وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ، قَالَ: مَا الإِسْلاَمُ قَالَ: الإِسْلاَمُ
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ
وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ، قَالَ: مَا
الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ
تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ
عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا
وَلَدَتْ الأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِي
الْبُنْيَانِ، فِي خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ تَلاَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ
السَّاعَةِ الآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا
فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ
Artinya :
Musaddad telah menceritakan kepada
kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu
Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kepada kami dari Abu
Hurairah r.a berkata:
Pada suatu hari ketika Nabi saw.
sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan bertanya,
“apakah iman itu?”. Jawab Nabi saw.: “iman adalah percaya Allah swt., para
malaikat-Nya, kitab-kitabnya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan
percaya pada hari berbangkit dari kubur. ‘Lalu laki-laki itu bertanya lagi,
“apakah Islam itu? Jawab Nabi saw., “Islam ialah menyembah kepada Allah dan
tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat
yang difardhukan dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Lalu laki-laki itu bertanya
lagi: “apakah Ihsan itu?” Jawab Nabi saw., “Ihsan ialah bahwa engkau menyembah
kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu
melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu.
Lalu laki-laki itu bertanya lagi:
“apakah hari kiamat itu? “Nabi saw. menjawab: “orang yang ditanya tidak lebih
mengetahui daripada yang bertanya, tetapi saya memberitahukan kepadamu beberapa
syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah
melahirkan majikannya, dan jika penggembala onta dan ternak lainnya telah
berlomba-lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk lima perkara yang tidak
dapat diketahui kecuali oleh Allah, selanjutnya Nabi saw. membaca ayat:
“Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah yang mengetahui hari kiamat…
(ayat).
Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi
saw. bersabda kepada para sahabat: “antarkanlah orang itu. Akan tetapi para
sahabat tidak melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi saw.bersabda: “Itu
adalah Malaikat Jibril a.s. yang datang untuk mengajarkan agama kepada
manusia.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad
bin Hambal).
A. Iman
Kata iman berasal dari bahasa arab,
yang merupakan masdar dari madli Amana, Yu’minu, Imanan, yang artinya
percaya. Sedangkan menurut hadits pokok yang telah kami paparkan diatas,
iman adalah percaya (adanya) Allah swt., para malaikat-Nya, kitab-kitabnya, dan
pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya serta percaya pada hari berbangkit
dari kubur.
Pada redaksi lain juga disebutkan,
yakni hadits yang diriwayatkan oleh bukhori muslim, selain yang telah
disebutkan pada hadits pokok diatas, ada tambahan mengenai obyek iman, yaitu
beriman adanya qodlo dan qodar, baik maupun buruk. Wal hashil, dari sinilah
para ulama’ menyimpulkan bahwa rukun iman ada enam, yang mana setiap
mu’min wajib mempercayainya untuk menyandang sebuah titel mu’minnya. Yakni :
1.
Iman kepada Allah
2.
Iman kepada malaikat Allah
3.
Iman kepada rusul Allah
4.
Iman kepada kitab-kitab Allah
5.
Iman kepada hari akhir (kiamat)
6.
Iman kepada qodo’ dan qobar Allah, baik maupun buruk
keberadaannya.
Banyak sekali hadits yang memuat
tentang iman, yang tak mungkin kami sajikan disini, maka kami hanya mengambil
sebagian saja, diantaranya :
حدثنا عبد الله بن محمد قال حدثنا أبو عامر العقدي قال حدثنا
سليمان بن بلال عن عبد الله بن دينار عن أبي صالح عن أبي هريرة رضي الله عنه عن
النبي صلى الله عليه و سلم قال : ( الإيمان بضع وستون شعبة والحياء شعبة من
الإيمان )
Artinya : Abdulloh bin Muhammad
telah bercerita kepada kita, seraya berkata; Abu Amir al Aqdi bercerita
kepada kita seraya berkata ; sulaiman bin bilal telah bercerita kepada kita
dari abdulloh bin dinar dari abu sholih dari abu hurairoh ra. Dari Nabi
SAW. Beliau bersabda : “iman terdiri dari 70 lebih sekian cabang, sedangkan
malu termasuk salah satu cabang darinya”.
Iman
sering juga dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan
hati. Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan
sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain. Aqidah
tersebut akan menjadi pegangan \dapedoman hidup, mendarah daging dalam diri
yang tidak dapat dipisahkan lagi dari diri seorang mukmin. Bahkan seorang
mukmin sanggup berkorban segalanya, harta dan bahkan jiwa demi mempertahankan
aqidahnya
B. Islam
Sebagaimana telah maklum, islam
berasal dari bahasa arab juga, dari madli Aslama yuslimu islaman, yang
berarti selamat. Sedangkan menurut hadits pokok diatas, islam diartikan
sebagai Islam ialah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan
suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang difardhukan dan berpuasa
di bulan Ramadhan. Dilain redaksi, ada yang mencantumkan perihal haji, sehingga
dapat disimpulkan bahwa rukun iman berjumlah lima, yaitu :
1. Syahadat.
2. Sholat.
3. Zakat
4. Puasa.
5. Dan haji
Sebagaimana hadits nabi yang
berbunyi :
حدثنا عبيد الله بن موسى قال اخبرنا حنظلة بن أبي سفيان عن
عكرمة بن خالد عن ابن عمر رضي الله عنهما قال
: قال
رسول الله صلى الله عليه و سلم ( بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله
وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان )
Abdulloh bin musa telah bercerita kepada kita, dia berkata ;
handlolah bin abi sufyan telah memberi kabar kepada kita d ari ikrimah bin
kholid dari abi umar ra. Berkata : rasul saw. Bersabda : islam dibangun atas
lima perkara : persaksian sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan
sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusannya, mendirikan sholat, memberikan
zakat, hajji dan puasa ramadlan”.
Islam merupakan agama terakhir dari
syariat yang telah dirurunkan oleh Allah kepada rasul sekaligus nabinya yang
terakhir pula. Disini, eksistensi islam sebagai agama yang paling benar telah
tak diragukan lagi adanya. Banyak kaum orientalis yang berusaha menyerang
islam, dengan mempelajari islam itu sendiri, dengan tujuan mencari celah untuk
meruntuhkan islam melalui kekurangan-kekurangan yang ada dalam islam, tapi apa
yang terjadi, banyak diantara mereka yang malah berbalik kiblat kemudian masuk
islam tanpa ragu. Karena islam merupakan agama yang sempurna, sekaligus sebagai
penyempurna dari agama-agama masawi yang terdahulu. Allah berfiman :
إِنَّ الدّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسلٰمُ ۗ وَمَا اختَلَفَ
الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ إِلّا مِن بَعدِ ما جاءَهُمُ العِلمُ بَغيًا بَينَهُم ۗ
وَمَن يَكفُر بِـٔايٰتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَريعُ الحِسابِ
Artinya : Sesungguhnya agama (yang
diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah
diberi Al Kitab[4] kecuali sesudah datang pengetahuan
kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang
kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.[5]
C. Ihsan
Kata ihsan, lahir dari madli ahsana
yuhsinu ihsanan, yaitu bahasa arab yang berarti bebuat baik, atau memperbaiki.
Sedangkan bila memandang dri hadits pokok diatas, ihsan diartikan sebagai
menyembah Allah seakan akan kita melihat-Nya, atau setidaknya kita merasa
selalu diawasi oleh Allah.Allah SWT berfirman dalam Al Qur`an mengenai hal ini.
Yang artinya:
Jika kamu berbuat baik, (berarti)
kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)
“…Dan berbuat baiklah (kepada oraang
lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (al-Qashash:77)
Disini terdapat indikasi lebih
mengenai ihsan dibanding dengan yang lain. Karena ihsan sendiri merupakan usaha
untuk selalu melakukan yang lebih baik, yang lebih afdol, dan bernilai lebih
sehingga seseorang tidak hanya berorientasi untuk menggugurkan kewajiban dalah
beribadah, melainkan justru berusaha bagaimana amal ibadahnya diterima dengan
sebaik-baiknya oleh Allah. SWT. Karena dia akan merasa diawasi oleh Allah, maka
akan terus timbul dihatinya tuntutan untuk selalu memperbaiki amal perbuatannya
dari yang kurang baik menjadi yang baik, dari yang sudah baik, terus
berusaha untuk yang lebih baik demi diterimanya amal perbuatan mereka.
2.2
Hubungan antara Iman, Islam, dan
Ihsan
Diatas telah dibahas tentang ketiga
hal tersebut, disini, akan dibahas hubungan timbal balik antara
ketiganya. Iman yang merupakan landasan awal, bila diumpamakan sebagai
pondasi dalam keberadaan suatu rumah, sedangkan islam merupakan entitas yang
berdiri diatasnya. Maka, apabila iman seseorang lemah, maka islamnya pun akan
condong, lebih lebih akan rubuh. Dalam realitanya mungkin pelaksanaan sholat
akan tersendat-sendat, sehingga tidak dilakukan pada waktunya, atau malah
mungkin tidak terdirikan.
Zakat tidak tersalurkan, puasa tak
terlaksana, dan lain sebagainya. Sebaliknya, iman akan kokoh bila islam
seseorang ditegakkan. Karena iman terkadang bisa menjadi tebal, kadang pula
menjadi tipis, karena amal perbuatan yang akan mempengaruhi hati. Sedang hati
sendiri merupakan wadah bagi iman itu. Jadi, bila seseorang tekun beribadah,
rajin taqorrub, maka akan semakin tebal imannya, sebaliknya bila seseorang
berlarut-larut dalam kemaksiatan, kebal akan dosa, maka akan berdampak juga
pada tipisnya iman.
Dalam hal ini, sayyidina Ali pernah
berkata :
قال علي كرم الله وجهه إن الإيمان ليبدو لمعة بيضاء فإذا عمل
العبد الصالحات نمت فزادت حتى يبيض القلب كله وإن النفاق ليبدو نكتة سوداء فإذا
انتهك الحرمات نمت وزادت حتى يسود القلب كله
Artinya : Sahabat Ali kw. Berkata : sesungguhnya iman itu
terlihat seperti sinar yang putih, apabila seorang hamba melakukan
kebaikan, maka sinar tersebut akan tumbuh dan bertambah sehingga hati
(berwarna) putih. Sedangkan kemunafikan terlihat seperti titik hitam, maka bila
seorang melakukan perkara yang diharamkan, maka titik hitam itu akan tumbuh dan
bertambah hingga hitamlah (warna) hati. [6]
Adapun ihsan, bisa diumpamakan
sebagai hiasan rumah, bagaimana rumah tersebut bisa terlihat mewah, terlihat
indah, dan megah. Sehingga padat menarik perhatian dari banyak pihak. Sama
halnya dalam ibadah, bagaimana ibadah ini bisa mendapatkan perhatian dari sang
kholiq, sehingga dapat diterima olehnya. Tidak hanya asal menjalankan perintah
dan menjauhi larangannya saja, melainkan berusaha bagaimana amal perbuatan itu
bisa bernilai plus dihadapan-Nya. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas
kedudukan kita hanyalah sebagai hamba, budak dari tuhan, sebisa mungkin kita
bekerja, menjalankan perintah-Nya untuk mendapatkan perhatian dan ridlonya.
Disinilah hakikat dari ihsan.
2.3 Perbedaan Iman, Islam dan Ihsan
Antara iman,islam dan ihsan di
samping saling berhubungan,juga terdapat perbedaan yang merupakan ciri di
antara ketiganya.
1. Iman lebih menekankan pada segi
keyakinan di dalam hati.
2. Islam adalah sikap aktif untuk
berbuat/beramal.
3. ihsan merupakan perwujudan dari iman
dan islam,yang sekaligus merupakan cerminan dari kadar iman dan islam itu
sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari berbagai
pembahasan diatas maka dapat di tarik kesimpulan bahwa:
1.
Iman,islam dan ihsan
merupakan tripologi agama islam dimana sesuai dengan hadist nabi diatas.
2.
Iman,islam dan ihsan
saling berhubungan karena seseorang hanya menganut islam sebagai agama belumlah
cukup tanpa dibarengi dengan iman.Sebaliknya iman takan berarti jika tidak
didasari dengan islam.selanjutnya,kebermaknaan islam dan iman akan mencapai
kesempurnaan jika dibarengi dengan ihsan,sebab ihsan akan mengandung konsep
keikhlasan tanpa pamrih dalam ibadah.
3.
Iman lebih menekankan
pada segi keyakinan didalam hati,islam adalah sikap aktif untuk berbuat
/beramal,ihsan merupakan perwujudan dari iman dan islam,yang sekaligus
merupakan cerminan dari kadar iman dan islam itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar