Jumat, 20 Juni 2014

MAKALAH DIMENSI AJARAN ISLAM (IMAN,ISLAM DAN IKHSAN)

z

Makalah Tasawuf

DIMENSI AJARAN ISLAM
(IMAN,ISLAM DAN IKHSAN)
 DOSEN          : Drs. AHMAD SYUKRI,Mpd

disusun oleh 
Zuhrotul Azizah
131190059
DI SUSUN OLEH:

NAMA :ZUHROTUL AZIZAH
NPM : 1311090059
FAKULTAS : TARBIYAH
JURUSAN : PENDIDIKAN FISIKA
KELAS : A





 
 



FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI RADEN INTAN
BANDAR LAMPUNG
2013


KATA PENGANTAR



Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah Nya.Sehingga kita semua masih diberikan kekuatan iman dan kesempatan untuk selalu beribadah dan menuntut ilmu di jalan Nya. Sholawat an dan salam  semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhamad SAW dan para Sahabat Nya yang senantiasa kita nantikan dan rindukan syafaat Nya di akhir kelak.
Dalam kesempatan ini kami sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan makalah Dimensi Ajaran Islam dan kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian tugas makalah Dimensi Ajaran Islam .Semoga dengan adanya makalah ini dapat meringankan para mahasiswa dari kesulitan mempelajari Dimensi Ajaran Islam dan juga menjadi modal dasar untuk study Metode Study Islam selanjutnya. Serta tegur sapa dari para dosen dan mahasiswa tetap kami nantikan guna lebih mensukseskan bidang ini.
Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa menjadi bahan referensi kita dalam belajar.Akhirnya kepada Allah jualah kita berlindung dan mengharapkan magfira taufiq, dan hidayahNya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb


                                                                        Bandar Lampung,  Maret 2014

                                                                                    Penulis



DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalahan
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Iman,Islam, dan Ihsan
2.2  Hubungan Antara Iman,Islam, dan Ihsan
2.3  Perbedaan Antara Iman,Islam dan Ihsan
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA











BAB I
PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang

Dimensi-dimensi atau tahapan-tahapan yang terkandung dalam islam sangatlah berurutan sesuai dengan kemampuan jiwa yang terkandung dalam diri manusia sebagai makhluk yang telah dikaruniai hati dan pikiran sebagai alat untuk menjalani kehidupan.
Adapun tahapan-tahapan bukanlah perbedaan yang memecah belah persatuan sebagai sesama muslim,akan tetapi berfungsi saling melengkapi.dan  dengan sadar atau tidak,itulah tahapan-tahapan yang akan kita lalui sebagai manusia yang berakal.

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1        Apa yang dimaksud dengan iman,islam dan ihsan?
1.2.2        Apa hubungan antara iman ,islam dan ihsan?
1.2.3        Perbedaan antaraa iman,islam dan ihsan?

1.3  Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun agar dapat mengetahui bagaimana pengertian tentang iman,islam dan ihsan,hubungan antara iman,islam dan ihsan,serta dapat membedakan antara iman,islam dan ihsan.





BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Pengertian Iman,Islam dan Ihsan

Dalam sebuah hadits dikatakan :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَا الإِيمَانُ قَالَ الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ، قَالَ: مَا الإِسْلاَمُ قَالَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ، قَالَ: مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتْ الأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ، فِي خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ الآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ
Artinya :
Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah r.a berkata:
Pada suatu hari ketika Nabi saw. sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan bertanya, “apakah iman itu?”. Jawab Nabi saw.: “iman adalah percaya Allah swt., para malaikat-Nya, kitab-kitabnya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan percaya pada hari berbangkit dari kubur. ‘Lalu laki-laki itu bertanya lagi, “apakah Islam itu? Jawab Nabi saw., “Islam ialah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang difardhukan dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah Ihsan itu?” Jawab Nabi saw., “Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu.
Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah hari kiamat itu? “Nabi saw. menjawab: “orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya, tetapi saya memberitahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, dan jika penggembala onta dan ternak lainnya telah berlomba-lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk lima perkara yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah, selanjutnya Nabi saw. membaca ayat: “Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah yang mengetahui hari kiamat… (ayat).
Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi saw. bersabda kepada para sahabat: “antarkanlah orang itu. Akan tetapi para sahabat tidak melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi saw.bersabda: “Itu adalah Malaikat Jibril a.s. yang datang untuk mengajarkan agama kepada manusia.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal).

A. Iman
Kata iman berasal dari bahasa arab, yang merupakan masdar dari madli Amana, Yu’minu, Imanan, yang artinya percaya.  Sedangkan menurut hadits pokok yang telah kami paparkan diatas, iman adalah percaya (adanya) Allah swt., para malaikat-Nya, kitab-kitabnya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya serta percaya pada hari berbangkit dari kubur.
Pada redaksi lain juga disebutkan, yakni hadits yang diriwayatkan oleh bukhori muslim, selain yang telah disebutkan pada hadits pokok diatas, ada tambahan mengenai obyek iman, yaitu beriman adanya qodlo dan qodar, baik maupun buruk.  Wal hashil, dari sinilah para ulama’ menyimpulkan bahwa rukun iman ada enam,  yang mana setiap mu’min wajib mempercayainya untuk menyandang sebuah titel mu’minnya. Yakni :
1.      Iman kepada Allah
2.      Iman kepada malaikat Allah
3.      Iman kepada rusul Allah
4.      Iman kepada kitab-kitab Allah
5.      Iman kepada hari akhir (kiamat)
6.      Iman kepada qodo’ dan qobar Allah, baik maupun buruk keberadaannya.
Banyak sekali hadits yang memuat tentang iman, yang tak mungkin kami sajikan disini, maka kami hanya mengambil sebagian saja, diantaranya :
حدثنا عبد الله بن محمد قال حدثنا أبو عامر العقدي قال حدثنا سليمان بن بلال عن عبد الله بن دينار عن أبي صالح عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال  : ( الإيمان بضع وستون شعبة والحياء شعبة من الإيمان )
Artinya : Abdulloh bin Muhammad telah bercerita kepada kita, seraya berkata; Abu Amir al  Aqdi bercerita kepada kita seraya berkata ; sulaiman bin bilal telah bercerita kepada kita dari abdulloh bin dinar dari abu sholih dari abu hurairoh ra.  Dari Nabi SAW. Beliau bersabda : “iman terdiri dari 70 lebih sekian cabang, sedangkan malu termasuk salah satu cabang darinya”.
            Iman sering juga dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan hati. Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain. Aqidah tersebut akan menjadi pegangan \dapedoman hidup, mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisahkan lagi dari diri seorang mukmin. Bahkan seorang mukmin sanggup berkorban segalanya, harta dan bahkan jiwa demi mempertahankan aqidahnya

B. Islam

Sebagaimana telah maklum, islam berasal dari bahasa arab juga, dari madli Aslama yuslimu islaman, yang berarti  selamat. Sedangkan menurut hadits pokok diatas, islam diartikan sebagai Islam ialah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang difardhukan dan berpuasa di bulan Ramadhan. Dilain redaksi, ada yang mencantumkan perihal haji, sehingga dapat disimpulkan bahwa rukun iman berjumlah lima, yaitu :
1.      Syahadat.
2.      Sholat.
3.      Zakat
4.      Puasa.
5.      Dan haji
Sebagaimana hadits nabi yang berbunyi :
حدثنا عبيد الله بن موسى قال اخبرنا حنظلة بن أبي سفيان عن عكرمة بن خالد عن ابن عمر رضي الله عنهما قال
 : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان )
Abdulloh bin musa telah bercerita kepada kita, dia berkata ; handlolah bin abi sufyan telah memberi kabar kepada kita d ari ikrimah bin kholid dari abi umar ra. Berkata : rasul saw. Bersabda : islam dibangun atas lima perkara : persaksian sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusannya, mendirikan sholat, memberikan zakat, hajji dan puasa ramadlan”.
Islam merupakan agama terakhir dari syariat yang telah dirurunkan oleh Allah kepada rasul sekaligus nabinya yang terakhir pula. Disini, eksistensi islam sebagai agama yang paling benar telah tak diragukan lagi adanya. Banyak kaum orientalis yang berusaha menyerang islam, dengan mempelajari islam itu sendiri, dengan tujuan mencari celah untuk meruntuhkan islam melalui kekurangan-kekurangan yang ada dalam islam, tapi apa yang terjadi, banyak diantara mereka yang malah berbalik kiblat kemudian masuk islam tanpa ragu. Karena islam merupakan agama yang sempurna, sekaligus sebagai penyempurna dari agama-agama masawi yang terdahulu. Allah berfiman :
إِنَّ الدّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسلٰمُ ۗ وَمَا اختَلَفَ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ إِلّا مِن بَعدِ ما جاءَهُمُ العِلمُ بَغيًا بَينَهُم ۗ وَمَن يَكفُر بِـٔايٰتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَريعُ الحِسابِ
Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[4] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.[5]

C. Ihsan

Kata ihsan, lahir dari madli ahsana yuhsinu ihsanan, yaitu bahasa arab yang berarti bebuat baik, atau memperbaiki. Sedangkan bila memandang dri hadits pokok diatas, ihsan diartikan sebagai menyembah Allah seakan akan kita melihat-Nya, atau setidaknya kita merasa selalu diawasi oleh Allah.Allah SWT berfirman dalam Al Qur`an mengenai hal ini. Yang artinya:
Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)

“…Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (al-Qashash:77)
Disini terdapat indikasi lebih mengenai ihsan dibanding dengan yang lain. Karena ihsan sendiri merupakan usaha untuk selalu melakukan yang lebih baik, yang lebih afdol, dan bernilai lebih sehingga seseorang tidak hanya berorientasi untuk menggugurkan kewajiban dalah beribadah, melainkan justru berusaha bagaimana amal ibadahnya diterima dengan sebaik-baiknya oleh Allah. SWT. Karena dia akan merasa diawasi oleh Allah, maka akan terus timbul dihatinya tuntutan untuk selalu memperbaiki amal perbuatannya dari yang kurang baik menjadi yang  baik, dari yang sudah baik, terus berusaha untuk yang lebih baik demi diterimanya amal perbuatan mereka.

2.2  Hubungan antara Iman, Islam, dan Ihsan

Diatas telah dibahas tentang ketiga hal tersebut, disini, akan dibahas hubungan timbal balik  antara ketiganya. Iman yang merupakan landasan awal,  bila diumpamakan sebagai pondasi dalam keberadaan suatu rumah, sedangkan islam merupakan entitas yang berdiri diatasnya. Maka, apabila iman seseorang lemah, maka islamnya pun akan condong, lebih lebih akan rubuh. Dalam realitanya mungkin pelaksanaan sholat akan tersendat-sendat, sehingga tidak dilakukan pada waktunya, atau malah mungkin tidak terdirikan.
Zakat tidak tersalurkan, puasa tak terlaksana, dan lain sebagainya. Sebaliknya, iman akan kokoh bila islam seseorang ditegakkan. Karena iman terkadang bisa menjadi tebal, kadang pula menjadi tipis, karena amal perbuatan yang akan mempengaruhi hati. Sedang hati sendiri merupakan wadah bagi iman itu. Jadi, bila seseorang tekun beribadah, rajin taqorrub, maka akan semakin tebal imannya, sebaliknya bila seseorang berlarut-larut dalam kemaksiatan, kebal akan dosa, maka akan berdampak juga pada tipisnya iman.
Dalam hal ini, sayyidina Ali pernah berkata :
قال علي كرم الله وجهه إن الإيمان ليبدو لمعة بيضاء فإذا عمل العبد الصالحات نمت فزادت حتى يبيض القلب كله وإن النفاق ليبدو نكتة سوداء فإذا انتهك الحرمات نمت وزادت حتى يسود القلب كله
Artinya : Sahabat Ali kw. Berkata : sesungguhnya iman itu terlihat seperti sinar yang  putih, apabila seorang hamba melakukan kebaikan, maka sinar tersebut  akan tumbuh dan bertambah sehingga hati (berwarna) putih. Sedangkan kemunafikan terlihat seperti titik hitam, maka bila seorang melakukan perkara yang diharamkan, maka titik hitam itu akan tumbuh dan bertambah hingga hitamlah (warna) hati. [6]
Adapun ihsan, bisa diumpamakan sebagai hiasan rumah, bagaimana rumah tersebut bisa terlihat mewah, terlihat indah, dan megah. Sehingga padat menarik perhatian dari banyak pihak. Sama halnya dalam ibadah, bagaimana ibadah ini bisa mendapatkan perhatian dari sang kholiq, sehingga dapat diterima olehnya. Tidak hanya asal menjalankan perintah dan menjauhi larangannya saja, melainkan berusaha bagaimana amal perbuatan itu bisa bernilai plus dihadapan-Nya. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas kedudukan kita hanyalah sebagai hamba, budak dari tuhan, sebisa mungkin kita bekerja, menjalankan perintah-Nya untuk mendapatkan perhatian dan ridlonya. Disinilah hakikat dari ihsan.


2.3  Perbedaan Iman, Islam dan Ihsan

Antara iman,islam dan ihsan di samping saling berhubungan,juga terdapat perbedaan yang merupakan ciri di antara ketiganya.

1.      Iman lebih menekankan pada segi keyakinan di dalam hati.
2.      Islam adalah sikap aktif untuk berbuat/beramal.
3.      ihsan merupakan perwujudan dari iman dan islam,yang sekaligus merupakan cerminan dari kadar iman dan islam itu sendiri.














BAB III
PENUTUP


3.1  Kesimpulan

Dari berbagai pembahasan diatas maka dapat di tarik kesimpulan bahwa:
1.      Iman,islam dan ihsan merupakan tripologi agama islam dimana sesuai dengan hadist nabi diatas.
2.      Iman,islam dan ihsan saling berhubungan karena seseorang hanya menganut islam sebagai agama belumlah cukup tanpa dibarengi dengan iman.Sebaliknya iman takan berarti jika tidak didasari dengan islam.selanjutnya,kebermaknaan islam dan iman akan mencapai kesempurnaan jika dibarengi dengan ihsan,sebab ihsan akan mengandung konsep keikhlasan tanpa pamrih dalam ibadah.
3.      Iman lebih menekankan pada segi keyakinan didalam hati,islam adalah sikap aktif untuk berbuat /beramal,ihsan merupakan perwujudan dari iman dan islam,yang sekaligus merupakan cerminan dari kadar iman dan islam itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar